Biografi Abu Layts
As-Samarqandi

 Abu al-Layts Nashr bin Muhammad bin Ahmad bin Ibrahim as-Samarqandi al-Balkhi atau yang lebih akrab disapa Abu al-Layts al-Samarqandy merupakan seorang ahli fikih, pakar hadis, piawai tafsir. Imam as-Samarqandi dilahirkan di Samarkand, sebuah daerah di negara Uzbekistan, pada awal abad ke-4 H, tepatnya pada tahun 301 H. Beliau merupakan ulama yang terkenal memiliki tutur nasihat yang penuh faidah dan memiliki banyak karya tulis. Tidak banyak yang mengulas tentang keluarganya, barangkali ia lahir dari keluarga biasa, tidak disebutkan tentangnya kecuali perihal Abu Laits dan ayahnya. Demikian tulis Dr. Zakariyya dalam kata pengantar Tafsir as-Samarqandi. Samarkand, kota kelahirannya, merupakan salah satu daerah Khurasan. Daerah ini merupakan kiblat bagi pecinta ilmu. Banyak para ulama, fuqoha, penasehat dan ahli sufi pergi ke sana. Samarkand, yang terletak di daerah Khurasan, serta negara-negara lain yang digolongkan sebagai negara di belakang sungai (bilad ma wara’ al-nahr), pada masa daulah Samaniyyah merupakan pusat penyebaran kebudayaan islam, keluarga kerajaan memperhatikan nasib pengetahuan dan para ulama saat itu, As-Samarkandi merupakan ulama yang berkecimpung dalam ranah Fiqih Hanafi. Oleh karena itu ia berangkat ke daerah Balkh. Di sana beliau berguru ke tokoh-tokoh besar seperti Ali Abu Ja’far al-Hindiwani (w. 362 H), Muhammad bin al-Fadhl al-Balkhy al-Mufassir (w. 319 H), Kholil bin Ahmad bin Ismail (w. 368 H), Muhammad bin al-Husain al-Haddady ( w. 388 H), dan tokoh-tokoh lainnya. Mengenai gelar al-faqih yang dinisbatkan kepadanya,,hal tersebut menunjukkan kepakaran beliau dalam bidang tersebut. Penisbatan al-faqih yang disandang oleh al-Samarkandy memiliki sejarah menarik, karena gelar tersebut disematkan oleh Nabi Saw langsung. Sebagaimana ditulis oleh Dr. Zakariya Abdul Hamid dalam muqaddimah tahqiq tafsir Bahrul Ulum, tatkala Imam as-Samarkandy usai menuntaskan bukunya tanbih al-ghafilin, beliau membawanya menuju raudah Nabi, beliau bermalam di sana. Al-Samarqandy bermimpi melihat Nabi mengambil kitabnya tersebut dan menimangnya, kemudian Nabi berkata, “Ambil kitabmu, wahai Faqih!, kemudian ia terjaga dan mendapati buku tersebut ada di tempat di mana Nabi menaruhnya. Kemudian beliau mengalap berkah dengan gelar tersebut. Dalam ranah Ushuluddin, Abu Layts merupakan ulama yang piawai pada zamannya. dalam bidang ilmu tajwid, beliau juga terkenal sebagai sosok pendebat ulung. Al-Sam’any berkata : Abu Layts al-Samarqandy merupakan pembesar mazhab Hanafi dan masyhur sebagai ahli berdebat”. Selain itu, beliau juga mahir berbahasa Persia. Seorang peneliti tafsir mendapati bahwa Imam al-Samarqandy menyebutkan beberapa makna kalimat dalam al-Qur’an yang tidak memiliki suka kata asli dari bahasa Ara seperti al-Firdaus dalam firman Allah dalam surah al-Muminun 11.