K.H. Sholeh sangat terkenal di kalangan Kiai dan masyarakat Jawa Tengah yang nama aslinya Syaikh Muhammad Salih ibn ‘Umar al-Samarani lahir di Desa Kedung Cumpleng Kecamatan Mayong Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah pada tahun 1820 M / 1235 H. Ada riwayat lain mengatakan K.H. Sholeh Darat dilahirkan di Bangsri. K.H. Sholeh Darat dibesarkan di dalam keluarga alim yang mencintai tanah air. Pada waktu K.H. Sholeh Darat kecil beliau dipanggil dengan nama Sholeh. Ayah K.H. Sholeh Darat bernama Kyai ‘Umar adalah ulama yang terpandang dan disegani di kawasan pantai utara pulau Jawa. Kiai ‘Umar juga merupakan seorang pejuang yang berperang di Jawa pada tahun 1825 sampai 1830 juga merupakan salah satu orang kepercayaan Pangeran Diponegoro. Kiai ‘Umar beseta teman-teman, kolega dan santri-santrinya berjuang gigih mempertahankan kehormatan tanah air dari jajahan Kolonial Belanda. K.H. Sholeh Darat menikah hingga tiga kali, yang pertama ketika beliau masih bermukim di Makkah dan dikaruniai seorang putra diberi nama Ibrahim tetapi istrinya meninggal dan anaknya tidak ikut beliau pulang ke Nusantara. Yang kedua beliau diambil menantu oleh sahabat ayahnya yaitu Kiai Murtadha, beliau dijodohkan dengan putri Kiai Murtadha yang bernama Sofiyah dan dikaruniai dua putra bernama Yahya dan Kholil. Yang ketiga kalinya beliau menikah dengan Aminah putri dari Bupati Bulus Purworejo dan dikaruniai seorang putri yang diberi nama Siti Zahra. K.H. Sholeh Darat mendapat julukan seperti itu dikarenakan beliau tinggal di daerah bernama “Darat”, yaitu suatu daerah dekat pantai utara Kabupaten Semarang tempat mendaratnya orang-orang dari luar pulau Jawa. Di kalangan para Kiai Jawa maupun Semarang dan sekitarnya lebih dikenal dengan sebutan “Kiai Sholeh Darat” atau “Mbah Shaleh Darat” sebutan itu beliau akui sendiri dan terdapat pada sampul kitab karya beliau yang berjudul Syarh Barzanji. Daerah “Darat” termasuk wilayah Kelurahan Dadapsari Kecamatan Semarang Utara, adanya penambahan ini memang sudah menjadi adat dan cirri dari orang-orang yang terkenal di masyarakatnya. Beliau banyak memberikan konstribusi dalam penyebaran agama Islam di Nusantara karena sesuai dengan keinginan beliau yaitu berkhidmat terhadap tanah tumpah darah sendiri. Hubbul Wathon Minal Iman yang artinya cinta tanah air sebagian dari iman. Seperti pada umumnya putra Kiai, masa kecil dan remaja K.H. Sholeh Darat dihabiskan dengan belajar ilmu agama baik dengan orang tuanya maupun dengan ulama lain, K.H. Sholeh Darat tidak pernah puas dengan ilmu yang beliau peroleh dari Masjid, Langgar (Surau / Musholla), maupun Pesantren-pesantren yang ada di tanah kelahirannya. Pesantren pada waktu itu tidak hanya digunakan untuk kegiatan praktik keagamaan saja akan tetapi digunakan juga sebagai pusat pembinaan keagamaan dan pengembangan cara hidup bersosial (bermasyarakat) serta mempelajari hal-hal yang dinilai termasuk dalam bidang hukum Islam.