Biografi Syekh Nawawi
Al Bantani

 Syekh Nawawi al-Bantani bernama lengkap Muhammad bin Umar bin Arabi bin Ali Al-Jawi Al-Bantani. Ia lebih dikenal di kalangan pesantren dengan sebutan Muhammad Nawawi Al-Jawi Al-Bantani atau Syekh Nawawi al-Bantani. Namanya diambil dari nama seorang penulis textbook dalam mazhab Syafi’i dan dengan mengambil nama tersebut dia juga menghormati pelopornya. Nawawi adalah putra Kiai Umar seorang pejabat penghulu yang memimpin masjid, sedangkan ibunya bernama Zubaedah seorang ibu rumah tangga biasa. Dia merupakan anak sulung dari tujuh bersaudara, yaitu Ahmad Syihabudin, Tamim, Said, Abdullah, Tsaqilah dan Sariyah. Nawawi lahir di kampung Tanara, Banten sekarang masuk dalam kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang pada tahun 1813 M atau 1230 H. Dari silsilahnya, Nawawi merupakan keturunan kesultanan yang ke-12 dari Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati, Cirebon), yaitu keturunan dari Putra Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I) yang bernama Sunyararas (Tajul ‘Arsy). Nasabnya bersambung dengan Nabi Muhammad saw. melalui Imam Ja’far As-Shadiq, Imam Muhammad Al-Baqir, Imam Ali Zain Al-Abidin, Sayyidina Husain, Fatimah Al-Zahra. Nawawi menikah dengan Nyai Nasimah, gadis asal Tanara, Serang dan dikaruniai 3 orang anak bernama Nafisah, Maryam dan Rubi’ah. Ia adalah seorang ulama dan intelektual yang sangat produktif menulis kitab, jumlah karyanya tidak kurang dari 115 kitab yang meliputi bidang ilmu fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadis. Karena kemasyhurannya, Syekh Nawawi al-Bantani kemudian dijuluki Sayyid Ulama al-Hijaz (Pemimpin Ulama Hijaz), al-Imam al-Muhaqqiq wa al-Fahhamah al-Mudaqqiq (Imam yang Mumpuni ilmunya), A’yan Ulama al-Qarn al-Ram Asyar li al-Hijrah (Tokoh Ulama Abad 14 Hijriyah), hingga Imam Ulama al-Haramain, (Imam ‘Ulama Dua Kota Suci).